Blog versus Microblogging

 a guest post by Adilla | Dunia Bebas Uang

Blog, istilah yang tentu buat rekan-rekan semua sudah tidak asing lagi. Seperti kita ketahui istilah weblog dipopulerkan pertama kali oleh John Barger (1997) kemudian menjadi blog oleh Peter Merholz dan kemudian menjadi Blogger, suatu kata kerja dan sekaligus nama produk oleh pendiri Blogspot ( Evan Williams dan Isaac ‘Biz’ Stone ) dan sejak dibeli oleh Google sekitar tahun 2002 Blogspot terus berkembang sampai sekarang seperti yang telah kita nikmati sekarang ini.

Beberapa tahun terakhir munculah fasilitas microblog seperti Twitter dan Plurk yang berasa euforianya sekitar tahun 2008-2009 dengan munculnya layanan social networking Facebook. Walaupun sebelumnya telah ada Friendster yang lumayan mengundang kehebohan di kalangan pengguna internet, tapi booming yang sebenarnya terjadi pada saat Facebook diluncurkan kemudian disusul oleh Myspace, LinkedIn dan masih banyak lagi, ada juga yang berasal dari dalam negeri seperti Kombes dan Kronologer. Social networking juga mempunyai layanan microblogging lewat fasilitas update status-nya.

Kalau blog sudah kita ketahui apa dan bagaimananya, tapi kenapa Twitter –misalnya- disebut microblog? Disebut micro karena lebih kecil dan simpel dibanding dengan blog biasa dari sisi konten maupun berat file secara keseluruhan (Wikipedia).
Microblog biasanya berupa kalimat-kalimat pendek seperti halnya SMS di handphone, karena hanya dibatasi sekitar 140 karakter saja. Yang tidak bisa disepelekan adalah efek dominonya yang luar biasa cepat dalam menyampaikan berita, misalnya anda mempunyai 20 follower pada akun Twitter anda maka twit anda akan dibaca oleh 20 orang, bila kemudian 10 orang diantaranya re-twit berita anda dan masing-masing juga mempunyai 20 follower juga berapa orang yang kira-kira akan membaca berita anda dalam hitungan detik, menit, dan jam? Silakan dihitung sendiri.

Kalau melihat hebohnya microblogging sekarang ini apakah blog tradisional akan tersingkir oleh fenomena microblogging?

Menurut saya, blog tradisional akan tetap bertahan dengan alasan-alasan sebagai berikut:
  1. Blog telah terbukti bertahan sejak dimulai tahun 1997 atau katakanlah sejak dipegang oleh Google tahun 2002 hingga sekarang dan blog yang aktif terus bertambah jumlahnya. Track record ini sudah bisa membuktikan bahwa blog tradisional bisa bertahan. (Tahukah anda pada saat saya menulis artikel ini posisi situs http://www.blogger.com adalah ranking #7 pada Alexa Rank sedang Twitter ada di posisi #11??)
  2. Berapa banyak karakter yang bisa kita tuangkan di blog? Tidak terbatas mungkin ya, karena saya juga tidak pernah menghitungnya. Yang pasti pada saat saya menulis di blog saya bisa bercerita utuh dari mulai pembukaan, pokok masalah dan penutup dan itu semua butuh jauh lebih banyak dari sekedar 140 karakter. Jadi bukan hanya menulis : “Saya sedang semangat nih!”, tapi bisa menceritakan kenapa atau apa yang menyebabkan anda bersemangat dan mungkin bisa memberi inspirasi atau menularkan semangat itu pada orang lain. Tulisan anda akan lebih mendalam dan berarti diblog karena bisa ditulis melebihi 140 karakter (bukan kata). Paragraf pertama diatas sudah mengandung 456 karakter!
  3. Tulisan anda di blog akan tetap disana selama anda tidak menghapusnya serta dengan mudah akan dibukal kembali walau sudah 3 atu 4 tahun yamg lalu, pada microblog saya kesulitan bila harus melacak update status saya 3 bulan yang lalu.
  4. Kebebasan kita sebagai admin blog dalam mengelola blog, mengubah template, bongkar pasang widget, edit CSS dan XML. Semua bisa dilakukan semau dan semampu kita. Apakah anda yang pernah merasakan kebebasan penuh seperti itu akan melepaskannya begitu saja? Jawaban saya pasti : TIDAK.
  5. Akun anda bisa ditutup secara sepihak bila dirasakan anda melanggar syarat-syarat mereka. BUM! Dan hilanglah semua yang ada disana.

Kesimpulannya:
Apakah kebebasan kita mengelola blog, menyimpan hasil karya tulisan dan kreativitas akan kita ganti dengan sesuatu dimana kita tidak mempunya wewenang untuk merubah, mendandani, menyimpan, bahkan tulisan dibatasi dengan hanya 140 karakter saja? Dimana semua yang kita unggah kedalamnya menjadi hak pemilik social network dan bebas digunakan untuk apa saja. Mengapa harus beralih menginvestasikan waktu lebih di situs lain yang kita tidak punya kontrol penuh terhadapnya?

Disisi yang lain, keberadaan microblog bisa dimanfaatkan untuk meraih kepopuleran bagi yang belum terkenal atau menambah kepopuleran bila blog anda sudah terkenal. Sebagian dari blogger tentu sudah memanfaatkan hal ini dan merasakan hasilnya dengan peningkatan pengunjung. Update status yang berisi postingan terbaru dari blog disertai dengan link menuju blog sudah umum dilakukan di kalangan blogger, apalagi dipermudah dengan widget share and bookmarks yang gratis.

Apakah anda merasakan bahwa update status yang muncul di halaman anda hanya orang-orang itu saja? Atau kalau dulu anda bisa mendapat komen sampai puluhan jumlahnya sekarang bisa dihitung dengan jari? Mengapa? Bandingkan dengan blog yang mungkin sering mengunjungi blog anda, apakah masih setia meng-update artikel?

Penutup
Saya tidak mengajak menutup akun anda di Facebook, Twitter atau microblog lainnya karena layanan-layanan itu tetap luar biasa dan bisa sangat berguna. Tetapi akan sangat disayangkan bila menelantarkan blog yang bisa kita kontrol sepenuhnya untuk berpindah ke akun yang 100% dikuasai orang lain.

Comments